Minggu, 27 Maret 2011

Minggu, 27 Maret 2011

indikator status kesehatan wanita(pendidikan,penghasilan,kematian,usia harapan hidup,kesuburan)

 Pendidikan:

Pendidikan kesehatan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan masyarakat agar dapat mencapai kehidupan yang sehat, termasuk didalamnya peningkatan kemampuan ibu-ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita sehingga sang ibu dapat memberikan penanganan/perawatan yang sedini mungkin untuk dapat mengurangi dampak negatif dari gangguan perkembangan yang terjadi.
Penelitian ini difokuskan untuk melihat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan Ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita khususnya pada gangguan bicara dan bahasa, retardasi mental, dan autisme. Hal ini mengingat ketiga jenis gangguan perkembangan tersebut sering terjadi pada anak balita dan sering kurang diperhatikan oleh orangtua mereka, terlebih di pedesaan. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kemampuan ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dalam bentuk pendidikan kesehatan.
Responden dalam penelitian ini sebanyak 44 ibu di Dusun Taruban Kulon, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo yang diambil secara random sederhana. Adapun penentuan jumlah sampelnya menggunakan Tabel Krejcie dan Morgan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Alat penelitian berupa tes. Pengambilan data dilakukan selama bulan Februari dan Maret 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan memberi pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kemampuan ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita di Dusun Taruban Kulon, Tuksono, Sentolo Kulon Progo. Dari uji statistik didapatkan nilai t hitung sebesar 11,501 dengan nilai Sig (2 tailed) 0,000, sehingga 11,501 > 2,02 dan 0,000 < 0,05.
Berdasarkan pertimbangan hasil penelitian, maka disarankan agar pendidikan kesehatan tentang gangguan perkembangan anak balita perlu diberikan kepada keluarga terutama ibu sehingga ibu dapat melakukan deteksi dini dan apabila menemukan gangguan perkembangan pada anak balitanya dapat lebih cepat mengupayakan penanganannya.
Kata Kunci : Kemampuan deteksi dini, gangguan perkembangan anak balita.
A. Pendahuluan
Memasuki abad ke-21 ini bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah dan tantangan yang sangat kompleks. Di satu sisi, secara internal kita masih belum mampu keluar dari krisis multi dimensial yang telah berlangsung sejak tahun 1997. Sementara di sisi lain, secara eksternal kita dihadapkan pada realita persaingan antar bangsa yang semakin meningkat dan kompetitif (Sugito, 2007).
Dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia, anak usia dini memiliki peran yang sangat menentukan. Melalui upaya pembinaan dan pengasuhan yang tepat, anak-anak di usia ini akan mudah diukir dan dibentuk menjadi sosok manusia yang benar-benar berguna bagi masyarakat, negara dan bangsa. Sosok manusia yang dimaksud adalah sosok manusia masa depan yang tidak saja cerdas, berkarakter baik dan berkepribadian mantap, tetapi juga mandiri, disiplin dan memiliki etos kerja tinggi yang secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia (BKKBN, 2004).
Abdulhak (2003) menyatakan bahwa anak usia bawah lima tahun (balita) atau sering disebut sebagai anak usia dini adalah sosok individu makhluk sosial kultural yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya dengan memiliki sejumlah potensi dan karakteristik tertentu. Sebagai individu, anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur dan perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Sebagai makhluk sosio-kultural, ia perlu tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan sosial tempat ia hidup dan perlu diasuh dan dididik sesuai dengan nilai-nilai sosio-kultural yang sesuai dengan harapan masyarakatnya.
Kenyataan yang ada di masyarakat, tidak semua anak balita dapat berkembang secara normal. Menurut Hidayat (2005) ada beberapa masalah yang berhubungan dengan perkembangan yang perlu pendeteksian, diantaranya apabila pada usia 1-1,5 bulan belum bisa tersenyum secara spontan, usia 3 bulan masih menggenggam dan belum bersuara, usia 4-5 bulan belum bisa tengkurap dengan kepala diangkat, pada usia 7-8 bulan belum bisa didudukkan tanpa bantuan, dan sebagainya.
Menurut Soetjiningsih (2007) kemampuan ibu-ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita, terutama di pedesaan, masih relatif rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya ibu-ibu yang tidak segera mengetahui kelainan anak balitanya, utamanya yang menyangkut gangguan perkembangan anak seperti gangguan bicara dan bahasa, retardasi mental yang berkaitan dengan gangguan bahasa, motorik kasar, motorik halus, dan kecerdasan serta autisme yang berkaitan dengan semua aspek perkembangan anak termasuk tingkah laku sosial. Karena rendahnya kemampuan deteksi terhadap gangguan perkembangan, mereka sering terlambat memeriksakan atau berkonsultasi dengan dokter atau para medis lainnya.
Pendidikan kesehatan pada masyarakat identik dengan penyuluhan kesehatan. Menurut Effendy (1998) pendidikan kesehatan berorientasi kepada perubahan perilaku yang diharapkan, yaitu perilaku sehat. Upaya ini penting dilakukan agar setiap individu mengenal kesehatan dirinya, keluarga dan kelompoknya dalam meningkatkan kesehatannya.
Notoatmodjo (2007) menegaskan bahwa peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku individu sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dengan demikian, terkait dengan aspek perkembangan anak balita, pendidikan kesehatan memiliki peranan yang sangat besar dalam rangka meningkatkan kemampuan ibu-ibu dalam optimalisasi perkembangan anak balita sekaligus kemampuannya dalam mendeteksi dini gangguan perkembangan anak balita. Karena melalui penyuluhan kesehatan, ibu-ibu yang memiliki balita akan banyak memperoleh informasi tentang perkembangan anak, tahapan perkembangan anak, gangguan perkembangan anak serta berbagai teknik dan cara untuk mengetahui apakah anak balitanya mengalami gangguan perkembangan atau tidak.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita di Dusun Taruban Kulon, Tuksono, Sentolo Kulon Progo ?”
B. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan desain Pre Test and Post Test Group Design. Pendekatan eksperimen digunakan karena untuk mendukung penelitian penulis melakukan kegiatan pendidikan kesehatan pada kelompok masyarakat tertentu yakni pada ibu-ibu yang memiliki anak balita di Dusun Taruban Kulon, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai anak usia bawah lima tahun (balita) di Dusun Taruban Kulon, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo yang berjumlah 50 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling yang penentuan jumlah sampelnya mengacu pada Tabel Krejcie dan Morgan. Dengan mengacu pada tabel tersebut, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 44 responden.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pendidikan kesehatan yang identik dengan penyuluhan kesehatan. Sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan ibu dalam deteksi gangguan perkembangan anak balita. Adapun variabel pengganggunya berupa tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
Analisa data dalam rangka pengujian hipotesis digunakan teknik analisis t-Test. Uji t yang digunakan adalah uji t untuk dua sampel berpasangan (Paired Sampel t Test). Teknik ini digunakan karena penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan sebuah sampel dengan subyek yang sama namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang berbeda (pre-test dan post-test). Analisa data dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS 14.0 for Windows.
C. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil uji statistik melalui metode parametrik Compare Means uji t untuk dua sampel berpasangan (Paired Samples t Test) diperoleh hasil rata-rata (Mean) pre test 52,4998 dengan Standar Error of Mean 2,75903 dan Standar Deviasi 18,30136. Sedangkan pada post test nilai rata-rata 78,4850 dengan Standar Error of Mean 1,47990 dan Standar Deviasi 9,81657. Selanjutnya korelasi antara pre test dan post test, diperoleh angka 0,575 dengan nilai probabilitas jauh di bawah 0,05 karena nilai signifikansi output hanya 0,000. Ini menyatakan bahwa korelasi nilai pre test dan post test adalah erat dan benar-benar berhubungan secara nyata. Besarnya nilai t hitung 11,501 dengan probabilitas Sig.(2-tailed) 0,000 lebih kecil dari 0,05. Mengingat nilai t hitung 11,501 lebih besar dari nilai t tabel 2,02 pada taraf kepercayaan 5% maka dapat dikatakan nilai pre test dan post test memiliki perbedaan yang positif dan signifikan. Atau dengan kata lain, pendidikan/penyuluhan kesehatan memberi pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kemampuan ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak balita.
Adanya pengaruh yang positif dan signifikan dari pendidikan kesehatan ini terjadi karena pendidikan kesehatan telah mampu memperluas wawasan, pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu dalam hal deteksi dini gangguan perkembangan anak balita. Melalui pendidikan kesehatan akan terjadi proses komunikasi dan pertukaran informasi antara petugas kesehatan dengan kelompok sasaran. Proses komunikasi dan pertukaran informasi ini akan berjalan efektif apabila kegiatan penyuluhan direncanakan dengan baik, menggunakan metode yang tepat dengan dukungan media atau alat peraga yang sesuai.
Memang sangat disadari bahwa tingkat pendidikan dan latar belakang pekerjaan kelompok sasaran (dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki anak balita) memiliki pengaruh terhadap daya serap maupun daya tangkap terhadap pesan-pesan atau informasi yang disampaikan oleh penyuluh. Namun pengaruh dari faktor-faktor tersebut secara umum tidak menjadi kendala atau faktor pengganggu yang menjadikan pendidikan/ penyuluhan kesehatan tidak diperlukan di masyarakat. Karena tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan akan tidak banyak berarti bila kelompok sasaran penyuluhan memiliki minat baca yang tinggi, serta perhatian dan peran dalam tanya jawab/diskusi yang baik. Artinya walaupun tingkat pendidikan rendah dan berlatar belakang pekerjaan sebagai petani, tetap saja hasil post test nya tinggi, tidak jauh berbeda dengan yang berpendidikan lebih tinggi dengan latar belakang pekerjaan sebagai pegawai atau karyawan kantor.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Yuniati (2004) yang berjudul Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan terhadap Pelaksanaan Mobilisasi Dini pada Ibu Post Partum di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta oleh Yuniati pada Tahun 2004 yang hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap waktu pelaksanaan mobilisasi dini dengan signifikansi 0,024 (< 0,05). Pemberian pendidikan kesehatan mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap lama setiap mobilisasi dini dengan signifikansi 0,005 ( 2,048 dan 0,39 2,02 dan 0,000 < 0,05.

Penghasilan:
Kombinasi pengukuran kesehatan dan tingkat keadilan merupakan cara yang dapat menghasilkan informasi terkait kebijakan yang juga mengungkapkan suatu ketidakadilan yang dasar di dalam masyarakat. Sebagai contoh, di Nairobi, Kenya, dokumentasi (keberadaan seperti juga) yang kebutuhan di bidang pendidikan dan kesehatan dari 60% dari populasi, tinggal di daerah orang miskin yang dipimpin kepada ketetapan jasa perkotaan kota bagi mereka (8). Dalam 1982, ketika tingkat kematian di anak perempuan yang berusia muda di Banglades ditemukan antara 6,7 dan 21,1 kali yang lebih tinggi dibanding bahwa di dalam anak laki-laki yang muda, tergantung pada tingkatan pendidikan dari orang tua, organisasi-organisasi lokal berkampanye untuk hak-hak wanita-wanita, anak-anak perempuan yang didaftar di sekolah-sekolah, dan akses yang ditingkatkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pada 1996, tindakan-tindakan lain telah mengurangi kesenjangan dengan baik, yaitu dengan tingkat kematian wanita antara 1,8 dan 2,3 kali yang lebih tinggi dibanding pria( 8) (lihat Fig. 2). Pilihan pengukuran kesehatan dan tingkat kemampuan berfokus di dalam konteks tertentu yang bergantung pada prioritas kesehatan dan tantangan hak azasi manusia memerlukan kebijakan informasi dan peluang untuk tindakan yang efektif. Dalam tingkat pengukuran bidang kesehatan dan tingkat pemerataan di dalam fasilitas HIS akan memunculkan ada atau tidaknya pemerataan, dan mempertinggi tanggung-jawab untuk melindungi populasi yang lemah. Pengukuran Kesehatan spesifik dan tingkat pemerataan menginformasikan bahwa kebijakan pemerataan digambarkan di bawah.

Idealnya, inti indikator kesehatan mencakup berbagai kategori, termasuk status kesehatan, pelayanan kesehatan dan faktor penentu lain, dan konsekuensi-konsekuensi sosial ekonomi dari sehat-sakit. Indikator status kesehatan bermanfaat untuk menganalisis tingkat pemerataan termasuk tingkat kematian, tingkat kesakitan, status gizi, status fungsional, dan kulitas hidup. Indikator pelayanan kesehatan termasuk akses pada pemanfaatan sarana kesehatan masyarakat mempedulikan fasilitas-fasilitas pengobatan dan pencegahan, seperti juga kualitas layanan, alokasi keuangan dan sumber daya manusia, dan pembiayaan rumah tangga serta asuransi. Akses untuk mendapatkan air dan pemeliharaan kesehatan secara tradisional dalam dunia kesehatan masyarakat di dalam negara maju dan terus meningkat dan dikenali sebagai suatu kesehatan masyarakat inti melayani di LMIC. Faktor penentu kesehatan kunci yang sekarang ini diukur dan ditujukan tidak samarata antar negara-negara termasuk keamanan makanan, -kondisi lingkungan, peperangan dan jenis-jenis dari kekerasan, jaringan sosial, dan faktor-faktor resiko individu seperti penggunaan tembakau, penggunaan alkohol berlebihan dan gaya hidup statis terus menerus. Pada akhirnya menderita penyakit yang akut atau kronis serta mempunyai konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekonomi yang berbeda untuk strata sosial yang berbeda, seperti penyakit karena malapetaka dapat menyebabkan atau memperburuk kemiskinan rumah tangga antar kelompok-kelompok yang tidakmampu di mana tidak ada perlindungan sosial

Kematian:


Ke¬ma¬tian maternal merupakan kematian dari se¬tiap wanita selama masa kehamilan, bersalin atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya ke¬ha¬milan oleh sebab apapun, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau insidental (faktor kebetulan). Hal ini sesuai dengan defenisi Internasional Statistical Classification of Disease and Related Health Problems (ICD). Angka kematian maternal kemudian didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu periode waktu dalam 100.000 kelahiran hidup.
Data organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun sejumlah 500 orang perempuan meninggal dunia akibat kehamilan dan persalinan, fakta ini mendekati terjadinya satu kematian setiap menit. Diperkirakan 99% kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang (WHO,2007).
Indonesia adalah salah satu negara yang masih belum bisa lepas dari belitan angka kematian ibu (AKI) yang tinggi. Bah¬kan jumlah perempuan Indonesia yang me¬ninggal saat melahirkan mencapai rekor ter¬tinggi di Asia. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian maternal di Indonesia mencapai 248/100.000 kelahiran hidup, itu berarti setiap 100.000 kelahiran hidup masih ada sekitar 248 ibu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.


Propinsi di Indonesia dengan kasus kematian ibu melahirkan tertinggi adalah Propinsi Papua, yaitu sebesar 730/100.000 kelahiran hidup, diikuti Propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 370/100.000 kelahiran hidup, Propinsi Maluku sebesar 340/100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Sulawesi Selatan berdasarkan profil kesehatan Sulawesi Selatan jumlah kejadian kematian maternal yang dilaporkan pada Tahun 2007 yaitu sebesar 104/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Propinsi Sulawesi-Selatan, 2008).
Tingginya angka kematian ibu tersebut berpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan karena satu atau lebih anak menjadi piatu, penghasilan keluarga berkurang atau hilang sama sekali. Ditambah lagi saat ini jumlah perempuan yang bekerja makin banyak sehingga kontribusi mereka terhadap kesejahteraan keluarga juga meningkat. Setiap tahun diperkirakan satu juta anak meninggal menyusul kematian ibu mereka. Anak-anak yang ibunya meninggal kurang mendapat perhatian dan perawatan dibandingkan dengan yang memiliki ibu yang masih hidup .
Kematian maternal juga sering dipakai sebagai indikator kesejahteraan rakyat atau kualitas pembanguan Manusia (IPM/HDI), hal ini didasarkan angka kematian maternal sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian maternal, seperti Gerakan Sayang Ibu (GSI), Buku KIA, Safe Motherhood: Partnership Family Approach,Penempatan bidan di desa, Maternal and Neonatal Health (MNH), Making Pregnancy Safer (MPS), dan program-program lainnya. Namun program dan strategi tersebut belum mampu mempercepat penurunan angka kematian ibu.
Seperti kita ketahui target Millenium Development Goal’s (MDG’s) salah satunya adalah mengurangi angka kematian ibu (AKI) di seluruh dunia sebesar 75% dari tahun 1900 ke 2015. Sebagai gambaran pada tahun 1990 AKI di Indonesia masih sekitar 408/100.000 kelahiran hidup, sesuai target MDG’s di tahun 2015 akan menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Di sisi lain berdasarkan analisis trend penurunan AKI periode 1900 – 2015 ternyata diperkirakan hanya akan mencapai 52-55% sehingga kemungkinan besar target MDG’s tetang AKI di Indonesia sulit tercapai (Bapenas, 2007).
Tingginya angka kematian maternal diatas dipengaruhi oleh banyak faktor dan sangat kompleks, secara garis besar faktor determinan kematian maternal digolongkan menjadi dua faktor besar yaitu faktor medis/langsung dan faktor non-medis/tidak langsung. Faktor medis/langsung disebabkan oleh komplikasi obstetrik atau penyakit kronik yang menjadi lebih berat selama masa kehamilan, sehingga berakhir dengan kematian, yaitu Perdarahan (28%), Eklampsia (24%), Infeksi (11%), Abortus (5%), partus lama, trauma obstetrik (5%), emboli obstetrik (3%). Sebagian kematian maternal banyak terjadi pada saat persalinan, melahirkan dan sesaat setelah melahirkan (www.pkmi-online.com,2005).
Faktor reproduksi ibu turut menambah besar risiko kematian maternal. Jumlah paritas satu dan Paritas diatas tiga telah terbukti meningkatkan angka kematian maternal dibanding paritas 2-3, selain itu faktor umur ibu melahirkan juga menjadi faktor risiko kematian ibu, dimana usia muda yaitu < 20 tahun dan usia tua ≥35 tahun pada saat melahirkan menjadi faktor risiko kematian maternal, sedangkan jarak antara tiap kehamilan yang dianggap cukup aman adalah 3-4 tahun. Faktor kematian maternal ini kemudian diidentifikasi sebagai 4 Terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat jarak kehamilan dan terlalu banyak).
Selain faktor medis dan reproduksi, faktor non-medis turut menambah parah risiko kematian maternal. faktor non-medis/tidak langsung tersebut yaitu kondisi sosial budaya, ekonomi, pendidikan, Kedudukan dan peran wanita, kondisi geografis, dan transportasi, ini kemudian diidentifikasi sebagai tiga terlambat (3T).
Hal ini sesuai dengan penelitian Widarsa, (2002) yang menyatakan bahwa frekuensi ANC < 4 kali memiliki risiko kematian ibu dengan OR 11,7. Pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu (www.library.usu.ac.id, 2008).
Faktor-faktor diataslah yang kemudian turut berkontribusi dan mempertinggi risiko kematian maternal, padahal pada dasarnya faktor-faktor tersebut dapat mudah untuk dicegah dan dihindarkan. Kematian maternal yang disebabkan oleh faktor-faktor yang seharusnya dapat dihindari, atau peluang yang terlewatkan maupun pelayanan dibawah standar, harus dapat ditemukan masalahnya. Oleh sebab itu penting dilakukan upaya untuk identifikasi seberapa besar faktor risiko tersebut terhadap kejadian kematian maternal.



Usia harapan hidup:



Usia harapan hidup (Life Expectancy Rate) merupakan lama hidup manusia di dunia. Usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Harapan hidup penduduk Indonesia mengalami peningkatan jumlah dan proporsi sejak 1980. Harapan hidup perempuan adalah 54 tahun pada 1980, kemudian 64,7 tahun pada 1990, dan 70 tahun pada 2000.

Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia membawa implikasi bertambahnya jumlah lansia. Berdasarkan data, wanita Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini semakim meningkat setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah itu sebagai akibat bertambahnya populasi penduduk usia lanjut dan tingginya usia harapan hidup diiringi membaiknya derajat kesehatan masyarakat.

1. Hal-hal yang berpengaruh penting pada kelangsungan hidup yang lebih lama

Penyebab panjangnya umur manusia, diluar soal takdir tentunya, tergantung dari beberapa faktor: (Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor)

- Pola Makan

- Penyakit bawaan dari lahir: mereka yang diberi berkah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjalani hidup lebih panjang adalah orang-orang yang terkait dengan rendahnya penyakit degeneratif. Yaitu penyakit-penyakit yang mengancam kehidupan manusia, seperti penyakit kanker, jantung koroner, diabetes dan stroke.

- Lingkungan Tempat Tinggal

- Strees Atau Tekanan

1. C. Faktor-faktor kesehatan yang mempengaruhi dan berhubungan dengan usia harapan hidup.

1. Gizi

Melewati kehidupan di dunia hingga usia 100 tahun mungkin menjadi harapan sebagian manusia. Mereka berpendapat bahwa dengan semakin panjang umur semakin banyak hal-hal yang dapat dilakukan, terlepas itu perbuatan yang baik maupun buruk. Penyebab panjangnya umur manusia, diluar soal takdir tentunya, tergantung dari beberapa faktor. Tapi yang paling berpengaruh adalah pola makan.

Mereka yang mempunyai kesempatan untuk menikmati hidup lebih lama ini adalah orang-orang yang sangat memperhatikan pola makannya. “Mereka mengurangi konsumsi kalori ke dalam tubuhnya.

Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor:

- Orang-orang lanjut usia ini mulai mengurangi konsumsi kalori dengan hanya memakan kacang-kacangan (kedelai), makan ikan dan minum teh hijau maupun teh hitam.

- Melakukan puasa seperti yang dilakukan umat Islam pada bulan Ramadhan.

- Melakukan diet terhadap jenis makanan goreng-gorengan, selain juga mengurangi porsi makan sehari-hari.

- Pada awal usia 50 tahunan, disaat proses metabolisme tubuh sudah mulai lambat, mereka banyak makan makanan yang mengandung zat anti oksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

- Makan ikan yang mengandung zat omega 3 yang sangat tinggi, yang dapat mengurangi kolesterol dalam tubuh.

- Mereka juga memangkas konsumsi protein dan lemak dalam tubuh, dengan cara mengurangi makanan yang mengandung lemak dan protein hewani, seperti telor, susu, daging, keju, dsb.

- Menyarankan agar para manula tersebut mulai kembali ke makanan ‘back to nature’ atau kembali ke alam. Diantaranya degan cara mengkonsumsi makanan tanpa dimasak atau menjadi seorang vegetarian.

1. Merokok

Merokok mengurangi usia harapan hidup rata-rata 10 tahun. Atau kalau anda tidak merokok berarti menambah usia harapan hidup rata-rata 10 tahun. Demikian antara lain hasil penelitian selama 50 tahun di Inggris mengenai dampak merokok terhadap kesehatan. Hasil penelitian yang dimuat di Jurnal Kesehatan Inggris ini menunjukkan, terdapat 20 penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok.

Penelitian terlama tentang dampak merokok terhadap kesehatan menunjukkan bahwa rata-rata perokok meninggal dunia 10 tahun lebih cepat dibanding mereka yang tidak merokok. Penelitian ini dimulai 50 tahun lalu ketika untuk pertama kalinya muncul kaitan antara merokok dan kanker paru-paru. Temuan ini sangat penting untuk mendorong orang berhenti merokok. Penelitian ini melibatkan sekitar 35 ribu dokter di Inggris yang lahir antara tahun 1900 dan 1930. Para ilmuwan memantau kebiasaan merokok mereka selama lebih dari 50 tahun. Dan data paling akhir menunjukkan resiko yang ada jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Sir Richard Peto, yang terlibat dalam penelitian ini hampir selama 40 tahun mengatakan, temuan yang ada menunjukkan berhenti merokok akan meningkatkan kuantitas dan kualitas hidup. “Bahkan setelah 20 tahun, bila anda berhenti merokok, anda bisa menghindari sembilan dari 10 resiko yang ada. Jika anda berhenti merokok setelah 10 tahun, anda bisa terbebas dari hampir semua resiko yang ada. Masalahnya adalah begitu orang merokok, susah untuk menghentikan kebiasaan itu. Banyak orang yang mengaku tak bisa berhenti merokok,” katanya.

Mereka yang berhenti merokok pada usia 60 tahun, bisa meningkatkan harapan hidup selama tiga tahun. Sementara bila seseorang berhenti merokok pada usia 30 tahun, berbagai dampak negatif terhadap kesehatan bisa diminimalkan.

Ada sekitar 20 penyakit yang terkait dengan merokok ini, antara lain penyakit jantung, stroke, dan berbagai macam kanker. Di negara berkembang dewasa ini, semakin banyak orang merokok. Sejak penelitian ini dilakukan, diperkirakan 100 juta orang meninggal di seluruh dunia akibat merokok. “Kematian itu disebabkan merokok telah dibuktikan sebagai penyebab berbagai penyakit saluran pernapasan seperti penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru, dan diyakini merupakan faktor resiko untuk penyakit jantung, stroke, dan berbagai penyakit kronis lain”.

1. Menapause

Keberhasilan pembangunan termasuk pembangunan kesehatan telah meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain meningkatnya umur harapan hidup (UHH) di Indonesia dari tahun ke tahun. Disamping itu terjadi pula pergeseran umur menopause dari 46 tahun pada tahun 1980 menjadi 49 tahun pada tahun 2000.

Jumlah dan proporsi penduduk perempuan yang berusia diatas 50 tahun dan diperkirakan memasuki usia menopause dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia diatas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta orang atau 7,6% dari total penduduk, sedangkan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30,0 juta atau 11,5% dari total penduduk.

Pada usia 50 tahun, perempuan memasuki masa menopause sehingga terjadi penurunan atau hilangnya hormon estrogen yang menyebabkan perempuan mengalami keluhan atau gangguan yang seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Padahal estrogen tersebut mempunyai manfaat yang beragam, sehingga menurunnya produksi hormon akan berpengaruh terhadap beberapa perubahan penting dalam tubuh.

Apa saja gejala-gejala awal yang menandakan kurangnnya kadar estrogen ?

- Wajah kemerahan

- Keringat pada malamm hari

- Rasa sakit dan nyeri (nyeri tulang dan sendi)

- Kekeringan didaerah vagina

- Masalah kandung kemih

- Hubungan seksual yang menimbulkan rasa nyeri

- Kulit kering

- Gangguan tidur

- Emosi yang mudah berubah-rubah

- Perdarahan menstruasi yang tidak teratur

- Gejolak panas di dada dan muka (hot flushes)

- Sakit kepala

- Mudah pingsan

- Depresi

- Daya ingat menurun

- Sulit konsentrasi

- Penyakit jangka panjang seperti tulang keropos (osteoporosis), jantung koroner, stroke, kanker usus besar.

Anda dapat mengukur kadar estrogen dengan berkonsultasi pada dokter yang akan melakukan pemeriksaan darah sederhana. Bila anda telah mengetahui penyebab timbunya gejala-gejala tersebut, anda dapat memulai usaha untuk mengatasinya.

Mengatasi menopause, degan Terapi penggantian hormon (TPH) bertujuan untuk mengganti hormon yang mulai menghilang agar efek-efek menopause dapat diatasi. Berkonsultasi pada ahli kandungan untuk membantu anda mempertimbangkan risiko TPH dan menemukan penanganan yang paling tepat untuk anda. Walupun efek samping yang akan muncul telah diketahui, kini anda bias mendapatkan pengobatan yang disesuaikan dengan keadaan anda untuk menghilangkan atau memperkecil efek samping. Ingat bahwa setiap wanita adalah berbeda.

Olahraga merupakan hal yang penting, tidak saja untuk kesehatan umum anda, tetapi juga memperbaiki densitas/kepadatan tulang anda dan menghilangkan gejala-gejala menopause.

- Diet tradisional Asia tampaknya memberi keuntungan yang penting. Diet Asia ini:

- mengandung kurang dari 20% kalori yang berasal dari lemak

- Membatasi masukan daging

- Kaya akan berbagai macam buah, sayur serta kacang-kacangan

- Memasukan menu dari tahu atau olahan kedelai paling tidak sekali sehari. (Produk olahan kedelai mengandung fitoestrogen, yang merupakan sebuah tipe hormon tanaman yang diyakini bermanfaat bagi menopause. Namun demikian, preparat tersebut belum terbukti keuntungannya untuk mengatasi osteoporosis dan efek kardiovaskuler akibat menopause.

- Hindari fakor-faktor yang memicu gejala-gejala menopause anda.kemerahan pada wajah dapat di picu oleh makanan nyang panas atau pedas. Alkohol, kafein dan gula juga dapat memicu kemerahan pada wajah.

- Krim vagina dan jel dapat di gunakan untuk mengurangi kekeringan dan rasa gatal pada vagina.. Preparattersebut juga dapat di gunakan pada saat berhubungan seksual, untuk mengurangi rasa sakit

1. Osteorosis

Seiring meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia, masalah osteoporosis/tulang keropos perlu mendapat perhatian serius. Semakin tua seseorang, semakin mudah terserang osteoporosis.

Orang lanjut usia merupakan sasaran paling rapuh untuk terkena osteoporosis. Ketika perempuan mencapai usia 80 tahun, ia mengalami resiko 40% mengalami 1 atau lebih patah tulang belakang. Data dunia juga menyebutkan satu dar tiga wanita beresiko terkena osteoporosis.

Kunci utama untuk melawan rapuh tulang diantaranya:

- Perhatikan gaya hidup

- Perhatikan pola makan

- Aktifitas fisik

Kesuburan:
kesuburan-wanitaBegitu banyak pasangan suami istri yang sangat menginginkan kehadiran si buah hati namun belum juga dikaruniani seorang anak. Banyak pula dari mereka yang mengikuti beberapa program guna mengharapkan terjadinya suatu kehamilan. Kemandulan atau ketidak suburan sering kali hanya dituduhkan ke pihak wanita, padahal pihak pria juga memiliki faktor penyebabnya.
Namun disini kita tidak akan membahas tentang hal tersebut. Kita hanya membedah seputar masalah masa subur wanita yang biasanya dijadikan tolak ukur untuk pasangan suami istri melakukan kegiatan seksual dengan harapan terjadi suatu kehamilan.
Masa subur adalah suatu masa dalam siklus menstruasi perempuan dimana terdapat sel telur yang matang yang siap dibuahi, sehingga bila perempuan tersebut melakukan hubungan seksual maka dimungkinkan terjadi kehamilan.
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen dan progesteron. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti, perubahan suhu basal tubuh, perubahan sekresi lendir leher rahim (serviks), perubahan pada serviks, panjangnya siklus menstruasi (metode kalender) dan indikator minor kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara.
Dengan mengetahui masa subur, ini akan bermanfaat bagi pasangan yang bermasalah dalam mendapatkan keturunan, yaitu dengan cara:
1. Menilai kejadian dan waktu terjadinya ovulasi.
2. Memprediksikan hari-hari subur yang maksimum.
3. Mengoptimalkan waktu untuk melakukan hubungan seksual untuk mendapatkan kehamilan.
4. Membantu mengindentifikasi sebagian masalah infertilitas.
Beberapa Fakta
Fakta membuktikan bahwa wanita yang sedang dalam masa subur biasanya bersikap lebih tajam terhadap wanita lain. Pada saat ovulasi (sekitar hari ke-12 sampai 21 siklus menstruasi) perasaan ingin bersaing dengan wanita lain semakin tinggi. Pada masa ovulasi, wanita sering memberikan komentar yang buruk ketika dimintai pendapat tentang wanita lain.
Pemilihan kontrasepsi alat suntik dan pil sangat mempengaruhi kesuburan wanita. Jika ingin membuat jeda waktu untuk terjadinya suatu kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi, sebaiknya konsultasikan dulu berbagai efek pemakaian dan pasca pemakaian dari masing-masing jenis alat.
Berat badan juga mempengaruhi kesuburan. Sebuah penelitian mengatakan 12% masalah ketidaksuburan disebabkan oleh masalah berat badan. Terlalu kurus bisa membuat siklus haid wanita tidak teratur dan bisa melahirkan bayi yang juga memiliki berat badan rendah.  Sebaliknya terlalu gemuk juga tidak berakibat baik untuk kesuburan karena keseimbangan hormon terganggu dan berisiko mengalami tekanan darah tinggi dan diabetes semasa hamil.
Wanita yang minum empat gelas kopi per hari memiliki risiko tidak subur lebih besar. Sebabnya, kafein mengurangi kandungan darah dalam hormon prolactin. Rendahnya hormon prolactin berhubungan dengan semakin rendahnya tingkat kesuburan. Jadi pilihan makanan juga turut mempengaruhi kesuburan.

 
Pratinjau
Pratinjau

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar